Thursday, 1 June 2023

Kahfi Ayat 55 - Bertobatlah dari kekafirannya sebelum datang azab yang tidak dapat ditolak lagi.

وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا

Tafsir Jalalain - (Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia) orang-orang kafir Mekah (untuk beriman) menjadi Maf'ul Tsani atau subjek kedua (ketika petunjuk telah datang kepada mereka) yakni Alquran (dan memohon ampun kepada Rabbnya, kecuali datang kepada mereka hukum Allah yang telah berlaku pada umat-umat terdahulu) lafal Sunnatul Awwalin berkedudukan menjadi Fa'il atau objek, artinya: datang kepada mereka kebinasaan Kami, yaitu kebinasaan yang telah ditentukan bagi mereka (atau datang azab atas mereka dengan nyata) secara terang-terangan, yaitu kekalahan mereka dalam perang Badar. Menurut qiraat yang lain dibaca Qubulan sebagai bentuk jamak dari kata Qabilun artinya bermacam-macam. Tafsir Quraisy SyihabTidak ada sesuatu pun yang menghalangi orang-orang musyrik untuk beriman ketika datang petunjuk kepada mereka. Petunjuk itu adalah Rasulullah saw. dan al-Qur'ân, agar mereka beriman dan meminta ampunan kepada Allah. Tetapi mereka ingkar dan meminta kepada Rasulullah saw. agar didatangkan kepada mereka hukuman Allah yang telah berlaku bagi orang-orang terdahulu berupa kebinasaan, atau didatangkan kepada mereka azab yang nyata.

5 comments:

  1. ------------------
    Perselisihan Ulama'
    ------------------
    Maksud : ada sesuatu yang menghalangi mereka beriman
    ------------------
    [ 1 ] - Penghalang tersebut ialah Takdir Allah
    ------------------
    penghalang tersebut adalah takdir Allah subhanahu wa ta’ala([1]). Sehingga artinya “dan tidak ada yang menghalangi manusia dari beriman dan dari memohon ampun kecuali takdir Allah”. Jadi seberapapun datang penjelasan yang sangat jelas kepada mereka namun ketika mereka telah ditakdirkan untuk kafir maka mereka tidak akan beriman. Seperti perkataan nabi Nuh,

    وَلَا يَنْفَعُكُمْ نُصْحِي إِنْ أَرَدْتُ أَنْ أَنْصَحَ لَكُمْ إِنْ كَانَ اللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يُغْوِيَكُمْ ۚ هُوَ رَبُّكُمْ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

    “Dan tidaklah bermanfaat kepada kalian nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kalian, sekiranya Allah hendak menyesatkan kalian, Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan”.” (QS. Hud: 34)

    Begitu juga firman Allah subhanahu wa ta’ala,

    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

    “Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (QS. Al-Baqarah: 6)

    Artinya mereka ditakdirkan untuk tidak beriman sehingga sebesar apapun petunjuk yang datang kepada mereka maka mereka tetap tidak akan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Pendapat pertama ini mengingatkan kita kepada takdir, bahwasanya kita harus beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk. Allah menakdirkan adanya Iblis dan juga menakdirkannya untuk masuk neraka jahannam, dan itu semua urusan Allah subhanahu wa ta’ala dan ini rahasia Allah subhanahu wa ta’ala.
    ------------------

    ReplyDelete
    Replies
    1. عَنْ أَبي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بنِ مَسْعُودٍ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ الصَّادِقُ المَصْدُوقُ، قَالَ: "إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرسَلُ إِلَيهِ الْمَلَكُ فَيَنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقَهِ وَأَجَلِهِ وعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ، فَواللهِ الَّذي لا إِلَهَ غَيرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بعملِ أهلِ الجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَها إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيدخُلُهَا، وإنَّ أحدَكُم ليَعْمَلُ بعملِ أهلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَها إِلَّا ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الجَنَّةِ فيَدخلُها". [صحيح] - [متفق عليه]

      Delete
  2. ---------------------
    Pendapat ke 3
    ---------------------
    [3]- Penghalang tersebut ialah sikap mereka yang suka menentang / membangkang
    ---------------------
    Pendapat ketiga: penghalang tersebut adalah perbuatan mereka yang sering menantang([2]). Sehingga artinya “dan tidak ada yang menghalangi manusia dari beriman dan dari memohon ampun kecuali perbuatan mereka yang sering menantang”. Mereka sering menantang para nabi agar didatangkan azab kepada mereka, sehingga akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala benar-benar menurunkan azab kepada mereka.

    وَإِذْ قَالُوا اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَٰذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

    “Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”.” (QS. Al-Anfal: 32)

    Begitu juga firman Allah subhanahu wa ta’ala tentang umat terdahulu kepada para rasul mereka,

    فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

    “maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” (QS. Al-A’raf: 70) (QS. Al-A’raf: 77) (QS. Hud: 32) (QS. Al-Ahqaf: 22)

    Umat-umat terdahulu sering menantang nabi-nabi mereka agar diturunkan azab, yang akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan azab kepada mereka.

    ReplyDelete
  3. -----------------------
    Allah Gandengkan Iman Dgn Istighfar
    -----------------------
    Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menggandengkan iman dengan istighfar, maka seseorang yang ingin imannya sempurna hendaknya ia menggabungkan antara keimanan dan istighfar. Seseorang yang merasa tidak bersalah maka hakikatnya dia tidak jeli dalam melihat kesalahannya. Seseorang tidak boleh merasa dirinya sempurna, karena dia pasti memiliki dosa. Terlebih di zaman sekarang ini (yang merupakan zaman penuh fitnah) maka sesaleh apapun seseorang atau seberapa besar usahanya dalam meninggalkan banyak macam kemaksiatan, hendaknya ia tetap menggabungkan antara iman dengan istighfar. Karena seseorang pasti berdosa dan tidak mungkin dia tidak berdosa, terlebih di zaman sekarang.

    ReplyDelete
  4. --------------------
    سنة الأولين
    --------------------
    Kemudian firman-Nya

    إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ

    “kecuali (akibatnya nanti) datangnya apa yang berlaku terhadap umat-umat yang dahulu.”

    سُنَّةُ adalah sesuatu yang telah berjalan, dan سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ adalah sesuatu telah yang menimpa umat-umat terdahulu. ([3])Yaitu berupa sesuatu yang telah menimpa kaum Nabi Nuh, menimpa kaum Nabi Hud, menimpa kaum Nabi Shalih, dan menimpa kaum Nabi Musa. Maka itulah سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ yaitu sunnah Allah subhanahu wa ta’ala yang berlaku pada orang-orang terdahulu jika mereka menentang para rasul. Begitu juga kalian wahai orang-orang musyrikin Quraisy, kalian akan ditimpa dengan سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ. Akhirnya mereka kaum musyrikin kalah dalam Perang Badar. Kalaupun mereka selamat di dunia maka mereka tetap akan tertimpa azab di akhirat, sebagaimana yang berlaku kepada umat-umat sebelumnya, kecuali jika mereka bertaubat dan sadar sebelum datang kematian.

    ReplyDelete